Rame Rame Mundur dari KPK
Perseteruan KPK dan POLRI meskipun telah berlangsung lama dan pernah ditengahi sendiri Presiden SBY tapi nampaknya perseteruan tersebut belum juga berakhir dan entah kapan berakhir, hal ini dapat dilihat kasat mata dengan mundurnya beberapa penyidik yang berasal dari Kepolisian, informasi terakhir ajudan Ketua KPK Abraham Samad juga mengundurkan diri. Mundurnya personil POLRI dari KPK umumnya beralasan ingin mengembangkan karirnya di institusi Kepolisian, belakangan ternyata bukan hanya alasan tersebut tetapi juga ada faktor lain yaitu adanya kekecewaan terhadap pimpinan KPK yang dinilai tidak adil dan terkadang melanggar SOP sebagaimana diungkapkan Nurdiman Munir yang mengikuti rapat tertutup antara Komisi III DPR dengan penyidik dari Kepolisian (Baca Tribunnews.com edisi 22-11-2012).
Dalam komunikasi ada yang disebut dengan meta komunikasi yaitu komunikasi tidak nampak, dalam konteks tersebut penulis beranggapan bahwa alasan pengunduran penyidik Kepolisian hanyalah permukaan yang menyelimuti permasalahan sesungguhnya. Lalu apa alasan sesungguhnya? Wallahu 'alam, yang jelas bagi masyarakat yang terus mengikuti perseteruan tersebut mempunyai anggapan beragam pula, diantaranya adalah didorong oleh semangat Korps, kecewa karena oknum petinggi Kepolisian dijadikan tersangka korupsi oleh KPK.
Tidak bisa dipungkiri semangat korps dapat dijadikan alat pemersatu dan dapat menjadi spirit bagi anggotanya. Lalu apakah semangat korps dapat diterapkan dalam konteks ini? menurut hemat penulis "TIDAK TEPAT", bisa menjadi bumerang bagi Kepolisian itu sendiri. Seyogyanya yang digunakan adalah semangat hukum, terlebih lagi penyidik adalah penegak hukum. Berilah kesempatan proses hukum menyelesaikannya, jangan diganggu dalam bentuk apapun, toh proses masih berjalan, dan tidak semua orang yang dijadikan tersangka oleh KPK divonnis bersalah oleh pengadilan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar